Senin, 07 Oktober 2013

EPILOG KOMUNITAS PERSI



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Oleh : Imam J. Larat

Menjadi penulis sama halnya dengan menjadi pemimpi yang sadar akan keharusannya berbagi cerita. Puisi lebih leluasa mewujudkannya
(Jorge luis Borges)
            Kodratnya seorang penulis memang adalah untuk bercerita kepada orang lain atau menyampaikan pesan kepada orang lain agar apa-apa yang menjadi keluh kesah, tujuan kita bisa tersampaikan. Maka puisi memang sangat setrategis dalam mengaplikasikan segala keluh kesah kita. Sebab, secara sederhananya saja puisi adalah karya yang simple secara tekstual. Berbeda dengan cerpen, novel dsb. Namun apakah pesan kita dapat dimengerti oleh orang lain, atau kebanyakan orang sudah apatis dan tidak mau tahu dengan pesan kita?. Seorang penulis puisi harus bisa mewujudkan dan mengkomunikasikannya dengan baik. Melalui apa?. :tentu dengan estetika menulis dan diksi yang bagus. ISER sangat tegas berpendapat bahwasanya karya sastra terdiri atas 2 kutub, yaitu artistic dan estetik. Kutub artistik mengacu pada teks ciptaan pengarangnya. Sedangkan estetik pada konkritisasi atas teks tersebut oleh pembaca.
            Menulis butuh kebiasaan yang di ulang-ulang. Jika kita sudah terbiasa dengan menulis maka kita akan mengontrol kekurangan-kekurangan kita selain dikontrol oleh orang lain. Apabila kebiasaan itu sudah menjadi tradisi, maka yang jelas untuk meninggalkan rutinitas itu akan sangat sulit dan berat rasanya. Karena aktivitas dalam menulis sudah menyatu dengan jiwa kita. Seperti halnya dengan sepasang kekasih yang sama-sama mencintai dan saling mengerti, menghargai dan saling melengkapi. Sebuah kasus Romeo dan Juliet terbukti dengan jelas. Lebih baik mati bersama dari pada dipisahkan dengan seseorang yang kita cintai.

Budaya dan puisi
Perlu diketahui bersama oleh siapapun, antara budaya dengan tradisi. Kelihatannya kita selalu tertipu dengan dua kata tersebut. Sangat mirip memang keduanya, namun ada sisi yang berbeda dengan tekhnesi di lapangan. Bagaikan orang yang kembar dari rahim yang sama. Mestinya meskipun mirip tapi tidak sama dari segala hal. Entah dari tingkah lakunya yang berbeda, hatinya yang berbeda, hidungnya sedikit berbeda, dan keperibadiaannya yang berbeda pula.
Budaya merupakan hasil karya cipta karsa orang lain yang diwariskan dari generasi kegenerasi dan tidak dapat diubah. Meskipun budaya di daur  ulang oleh generasi selanjutnya namun tidak akan merubah segalanya dan tidak pernah kenal dengan perubahan zaman. Budaya tidak serta meta mengikuti arus zaman. Jika masa berbeda maka budaya akan juga menyesuaikannya. Bukan itu yang dinamakan budaya. Intinya, budaya tidak serta merta dengan kondisi zaman. Kerapan Sapi dimadura atau Reog di Ponorogo, dia tidak pernah berubah  meski zaman mulai berkembang dengan pesat, yang namanya Kerapan Sapi dan Reog Ponorogo tetap seperti-seperti itu meskipun ada penambahan-penambahan dari segi aksesoris di dalamnya.
Sedangkan tradisi itu bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi zaman. Korea terkenal dengan life stayelnya sampai saat sekarang ini. Banyak orang yang mencontohnya. Memang tradisi di korea menggunakan pakaian-pakaian yang seperti itu. Akan tetapi ditahun berikutnya life stayel seprti itu orang-orang sudah bosan untuk mencontohnya dan menggunakannya kembali. Sehingga untuk memenuhi tuntutan zaman yang seperti itu, maka korea harus dapat merubahnya sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Bisa saja berubah seluruhnya, bisa saja juga hanya mendaur ulang yang sudah ada.
Maka seorang penulis puisi jangan sampai tertipu dengan dua kata tersebut. Jika kita salah dalam mengartikannya maka dampaknya kepada yang kita tulis. Dan Alhamdulillah para penulis PERSI tidak terjebak dengan semua itu, meskipun banyak penyelewengan puisi di dalmnya. Temanya Budaya namun ada yang menulis religi dsb.
Dari 11 puisi yang dikirimkan oleh anak-anak PERSI kelihatannya masih sangat dangkal dalam penggarapan dan pembahasan isinya. Persepsi saya : Nampaknya para penulis PERSI kurang mengetahui secara utuh terkait dengan yang ditulis. Namun tidak jadi masalah bagi anak PERSI. Sebab memang mulai dari dulu sangat sulit memang untuk berpindah kelain hati. Yakni dari puisi-puisi romantik ke puisi-puisi Budaya. Sangat disadari memang itu merupakan hal yang sulit bagi orang yang memang sudah terbiasa menulis puisi romantik. Lambat laun kita menjadi terbiasa juga dengan kondisi yang seperti ini. Sebenarnya jika kita membaca dan mengkajinya, maka kita tidak akan sulit berpindah  dari satu sisi ke sisi yang lain. Kita hanya butuh penyesuaian diri dari lingkungan yang baru kita tempati.
Dari ke 11 puisi anak-anak PERSI hanya satu puisinya Ayu Ana Widiastutik (Petti’ Laut) yang saya suka gaya penyampaiannya dan juga totalitas dalam memahami sejarah Budaya Petti’ Laut dalam tema Budaya yang seperti ini. Bukan maksud yang lainnya tidak suka, namun puisi Budaya itu memang harus tahu persis terkait dengan sejarahn dan aplikasinya di lapangan meskipun dalam tanda kutip kita tidak tahu yang sebenarnya tekhnik di lapangan dan kita juga tidak pernah ikut andil dalam ritual-ritual tersebut. Dengan membaca ulang sejarah itu kita akan paham dengan sendirinya.

Di laut, suara debur ombak  memencah keheningan
Merapati bibir pantai pada lambaian pohon cemara
Sedang upacara digelar diterik matahari
Memanggil bayang-bayang yang terdampar di babatuan

Dalam desiran angin yang berhembus
Para dewa menyaksikan ritual pemujaan
Sedang perahu-perahu berlabuh ketengah samudera
Mengantar sesajen para nenek moyang
Agar riak gelombang tak mendatangkan malapetaka

Tiba-tibalaut sunyi tak bergelora
Angin perlahan menerpa
Dan sebatang ilalang bergoyang-goyang
Melambaikan pohon-pohon penghuni sunyi
Mengantarkan cuaca sejuk menusuk kulit

Sandoruarae ghur cak-cak
Sandoruarae ghur  jhem

Oh… tubuhku bergetar
Mengeja nada yang mengalunkan lirik pemujaan
Memanggil suara debur ombak jauh diperbatasan

Sejenak ku  diam
Menatap kelangit
Lalu kembali
mengeja ritual pemujaan

secara penggarapannya ayu ana widiastutik cukup memahi pada Budaya Petti’ Laut yang pernah terjadi di budaya lokal Madura. Sehingga dalam penyampaiannya seakan dia tahu betul pada budaya tersebut. Diksinyapun sudah cukup lumayan bagi saya.
Yang harus menjadi catatan bagi ayu: Bahwa pettti’ laut bukan hanya terjadi pada siang hari. Di malam haripun petti’ laut ada yang menggelarnya. dan ada juga yang menggelar petti’ laut dari siang sampai malam. Maka dari itu kita harus benar-benar memperhatikan Budaya dengan beberapa versi yang berbeda. Agar kita dapat membanding-bandingkannya dengan realita yang terjadi di lapangan.
                       
            Budaya Indonesia sangat beragam sekali dan sangat kompleks. Namun kebiasaan anak pesantren khususnya anak PERSI jika bertema tentang budaya maka kita hanya membahas budaya lokal yang ada di Madura saja. Padahal Budaya di Indonesia sangat banyak untuk kita ungkap. Tapi nilai positifnya dengan mengangkat budaya lokal di Madura di samping kita mempromosikan budaya yang ada di Madura kita juga bisa meredam konflik perebutan budaya dan tidak mungkin terjadi seperti kasus di ponorogo. Malaysia sudah cukup banyak mengambil budaya kita. Menjadi perhatian khusus bagi masyarakat kita agar kita dapat melestarikan Budaya kita dengan semaksimal mungkin, sehingga kecaman-kecaman “maling sia” tidak terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
 
  
Yang terakhir :
Dalam posisi kegumaman dan ketakjuban, seorang penyair menuliskan puisi mengenai realitas secara imajinatif. Ada juga puisi yang sederhana, namun mengandung filosofi yang dalam. Yang oleh “Abdul Wachid Bs” dikatakan sebagai “kesederhanaan yang menipu ” (Deceptive Simplicity). Karya puisi bergantung pada kreativitas dan imajinasi dalam mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya.


            Untuk anak PERSI : semoga kalian masih tetap berperoses dan eksis sepanjang masa. Dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini.

Malang, 06 Oktober 2013

Senin, 23 September 2013

RESENSI

Politik Perumusan Kebijakan Publik




penulis           : Dr. Samodra Wibawa
Penerbit          : Graha Ilmu, 2011
Reviewer         : Nawa Murtiyanto, MPA

http://bagasaskara.files.wordpress.com/2011/11/img_0551.jpg?w=296&h=430Buku “Politik Perumusan Kebijakan Publik” merupakan sebuah buku yang berisikan ringkasan dan tafsir atas terjemahan buku “Public Policy: An Introduction to the Theory and Practise of Policy Analysis” (2001) karya Wayne Parsons yang sudah dialihbahasakan pada tahun 2005. Penulis mengajak pembaca untuk berdiskusi tentang dua hal yang mendasar, yaitu: bagaimana suatu sistem politik membuat kebijakan untuk publik ?; dan mengapa ada perbedaan antar sistem dalam proses perumusan kebijakan publik ?
Dalam bukunya, selain memaparkan tentang definisi dan konsep dasar proses perumusan kebijakan publik, penulis juga menguraikan model-model proses perumusan kebijakan publik, aliran kebijakan, siklus kebijakan, konteks proses perumusan kebijakan publik dan lingkungan internasional yang berpengaruh terhadap proses perumusan kebijakan suatu negara. Selain itu, penulis juga mencoba memaparkan harapan terhadap model proses perumusan kebijakan publik yang cocok untuk Indonesia. Untuk lebih melengkapi paparan teoretik, penulis menyertakan tiga contoh kasus proses perumusan kebijakan di Indonesia, yang terdapat pada bagian akhir buku.
Penulis menyatakan bahwa kebijakan publik merupakan keputusan yang dibuat oleh suatu sistem politik – baik di seluruh level institusi formal negara maupun hingga level institusi desa, RW dan bahkan RT. Proses perumusan kebijakan merupakan siklus yang kompleks, yang sulit untuk menentukan di mana bagian awal dan di mana bagian akhirnya. Di sisi lain, proses perumusan kebijakan tidak bisa dilepaskan dari model-model yang ada. Setidaknya penulis menguraikan enam model proses perumusan kebijakan, yaitu: Pluralis, Elitis, Non-decision Making, Neo-Marxis, Think-Tank dan Model Jaringan, Komunitas dan Koalisi Kebijakan. Setiap model dijelaskan basis teori dan contoh-contoh yang pernah terjadi.
Model Pluralis merupakan model proses perumusan kebijakan yang memandang bahwa kebijakan merupakan hasil dari proses interaksi antarberbagai kelompok kepentingan terhadap policy makers, dan sekaligus sebagai hasil dari pihak berwenang, yang sekaligus menempatkan negara/pemerintah (yang netral, terbuka dan responsif) sebagai pemain penting dalam seluruh proses perumusan kebijakan. Model Elitis memandang kebijakan publik merupakan cerminan keinginan dan kehendak kaum elit (penguasa, pengusaha, militer), tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat. Model Non-decision Making merupakan model kebijakan untuk tidak melakukan sesuatu, melalui filterisasi, kontrol dan pengalihan issu kebijakan oleh kelompok kepentingan yang berada di sekitar policy makers.
Model Neo-Marxis merupakan model perumusan kebijakan yang didominasi oleh negara dengan cara mereproduksi ideologi penguasa dan upaya birokratisasi kepada masyarakat. Pemerintah mengontrol dan memanipulasi kesadaran masyarakat untuk mengikuti kemauan pemerintah, sehingga pemerintah dapat mempertahankan legitimasinya. Model Think-Tank adalah model proses perumusan kebijakan yang melibatkan lembaga non-pemerintah yang profesional, baik secara pasif maupun proaktif. Model Jaringan Komunitas dan Koalisi Kebijakan merupakan model proses perumusan kebijakan melalui relasi antaraktor di dalam suatu sistem politik, serta melalui kompetisi antarkoalisi kebijakan – yang didahului dengan pengembangan dan penyebaran gagasan-gagasan perubahan. Model ini memunculkan watak suatu pemerintah(an), yaitu: reaksioner, antispatif, otoriter dan demokratis.
Aliran dalam proses agenda kebijakan yang dipaparkan adalah Aliran Masalah, Aliran Kebijakan dan Aliran Politik. Aliran Masalah menekankan pada cara agar supaya masalah (isu) mendapat perhatian dari pembuat kebijakan. Aliran Kebijakan mendasarkan pada pemahaman bahwa suatu ide (kebijakan) dapat menjadi agenda kebijakan jika mampu bertahan dalam seleksi proses perumusan kebijakan. Sedangkan Aliran Politik memuat elemen opini, elemen kekuatan politik, elemn pemerintah, dan elemen proses konsensus.
Penulis juga memaparkan siklus proses perumusan kebijakan sebagai punctuated equilibrium yang berbasis pada dimensi waktu, di mana suatu kebijakan yang stabil akan mengalami masa transisi dan instabil hingga muncul kebijakan baru. Sedangkan konteks proses perumusan kebijakan diibaratkan sebagai corong, di mana kebijakan merupakan output  dibatasi oleh perilaku elit, institusi pemerintah, perilaku politik massa, komposisi sosio-ekonomi dan kondisi historis-geografis. Selain itu, penulis juga menyampaikan satu hal penting, yaitu lingkungan internasional (world system) merupakan sistem politik yang berpengaruh terhadap proses perumusan kebijakan suatu negara.
Buku ini, secara keseluruhan sudah mendeskripsikan unsur-unsur penting dalam proses perumusan kebijakan secara ringkas. Model-model proses perumusan kebijakan yang dipaparkan penulis – yang menjadi inti dari buku ini, dijelaskan dengan baik dan disertai contoh-contoh faktual sehingga sangat membantu pembaca untuk memahami teori yang sudah dipaparkan. Nilai lebih dari buku ini adalah menjadi stimulan yang menarik bagi pembaca untuk lebih memperdalam tentang proses perumusan kebijakan. Sedangkan di sisi lain, akan jauh lebih baik jika buku ini juga memuat analisis terhadap contoh kasus yang dipaparkan, dan memuat informasi rinci yang dapat dipergunakan bagi praktisi. Informasi-informasi tersebut berupa komparasi kelebihan dan kelemahan antarmodel proses perumusan kebijakan dan konteks yang seperti apa yang cocok untuk masing-masing model. Informasi tersebut tentunya sangat berguna bagi pembaca untuk lebih memahami kompleksitas dalam proses perumusan kebijakan.


Malang, 20 September 2013

Rabu, 24 Juli 2013

CURHAT KEPRIBADIAN



DIALOG CINTA
Oleh : Imam J. Larat
 PROLOG :

- Apakah kamu mencintaiku?

+ ya, aku mencintaimu melebihi apapun.

- kenapa kamu mencintaiku sedemikian besarnya sampai-sampai melebihi apapun?

+ Cinta tidak menuntut alasan yang jelas. Cinta itu adalah kegilaan yang sempurna; kegilaan yang membedakan dengan orang lain yang tidak pernah merasakan nikmatnya cinta. Cinta itu adalah keserdehanaan yang menipu, dimana orang-orang selalu dibohongi, ditakuti, disakiti, dikhianati atau bahkan diduakan. Cinta itu seperti meminum anggur dan vodka yang kadar alkoholnya 75 persen, meski disirami dengan air dinginpun dia tidak akan sadar jika dirinya tidak ingat apa-apa. Hanya wajah kekasihnya, tingkah lakunya, aktivitasnya yang selalu ada di bayang-wayang pelupuk matanya. Cinta itu tidak memandang dia cantik ataupun tampan, tapi dengan rasa cinta seseorang menjadi cantik dan tanpan dengan sendirinya. Jika dikatakan cinta itu gila, ya memang kenyataannya begitu. Cinta itu menyangi, mengasihi, menjaga perasaan. Tapi apakah kamu sudah bisa menjaga perasaanku?. Cinta itu…………………., jika dibahasakan dengan kata-kata terlalu sedikit rasanya untuk mengungkapkan apa sebenarnya yang dinamakan cinta.
- lalu kenapa kamu sangat dingin sekali kepadaku, kamu pemarah, kamu tidak romantis. Pokoknya kamu tidak seperti yang kuinginkan sebelumnya. Dulu waktu kita berbicara pertama kali, kenal pertama kali kayaknya kamu sangat romantis banget seakan-akan aku memang layak untuk direbut dan dipertahankan. Tapi sekarang aku sangat kesal sekali. Kamu tidak pernah cerita tentang kisahmu, tentang keseharianmu, tentang segalanya yang kamu lakukan kala itu. Sedangkan aku sudah terbuka untukmu. Segalanya aku ceritakan, dari hal yang terkeciulpun aku ceritakan kepadamu. Dimataku apa yang aku lakukan semuanya kepadamu sudah benar menurutku. Tapi apa sih sebenarnya yang kau simpan sehingga dimatamu aku selalu kelihatan salah. 

+ apakah kamu sudah bisa menjaga perasaanku? Apakah kamu sudah tahu apa yang paling aku benci?. Saya kira jika kamu tahu 2 hal tersebut maka aku tidak mungkin akan memarahimu, aku tidak mungkin sedingin yang kau rasakan. Aku sangat jarang marah-marah, dan aku sangat jarang dingin terhadap orang lain. Jika engkau tidak percaya, cobalah tanyakan kepada orang-orang yang tahu tentang keseharianku. Jika engkau tidak percaya coba buktikan sendiri, lihat sendiri apa yang aku lakukan. 

- lalu apa yang kamu benci?

+ kamu sebenarnya sudah tahu apa yang kubenci, tapi mungkin kamu sedang lupa atau memang tidak ingin mengingtnya atau bahkan kamu sebenarnya hanya ingin mempermainkanku. “Aku sangat benci kepada orang yang tidak tepat dalam janjinya”, itu saja yang kubenci. Karena jika hal itu dilanggar maka aku selalu teringat dengan masa laluku, aku selalu ingat dengan mantan kekasihku. Jika aku sudah mengingatnya maka aku sangat merasa marah kepada siapapun, apalagi yang membuat mengingatnya adalah kekasihku sendiri yang selama ini selalu ada untukku “katanya”. Katanya masa lalu sebagai pembelajaran untuk masa akan datang, maka dari itu aku tidak mau kejadian itu terulang untuk yang kesekalian kalinya. Gara-gara dia tidak tepat dalam janjinya; hubungan kita berdualah yang menjadi korbannya. Dan aku tidak ingin hubungan kita yang menjadi korbannya untuk kali ini. Memang dia tidak pernah membuatku marah, kesal, apalagi menyakiti perasaanku sebelumnya. Tapi gara-gara dia tidak tepat dalam janjinya maka yang menjadi korban adalah hubungan kita. Lalu aku tidak mau jika kekasihku yang sekarang tidak dapat menepati janji. menjadi milik orang lainpun aku rela melepaskannya asalkan satu hal tersebut tidak diingkari. Cinta itu bukan hanya fisiknya yang dimiliki seutuhnya, tapi juga kebahagiaannya yang harus dimiliki juga. Jika seseorang yang kita cintai lebih bahagia dengan orang lain, lalu apa alasannku untuk tidak melepaskannya. Asalkan sang kekasih bahagia apapun aku lakukan untuknya, apapun itu resikonya. Meski harus kukorbankan segala perasaanku, aku rela, aku sangat rela. Jadi kau tidak usah tanyakan kasusnya tentang apa, kejadiannya dimana dan bagaimana alur ceritanya. Karena jika aku menyebutkannya maka aku akan mengingat kejadian yang membuatku merasa terpuruk kala itu. Lebih hanya aku yang tahu dengan tuhanku, ini sudah menjadi rahasia antara aku dan tuhanku. Cukuplah tuhanku saja yang tahu tentang ini. Andai saja tuhan tidak tahu dengan sendirinya maka aku sangat senang jika menyimpan kisah ini sendiri. Namun karena tuhan siftanya maha tahu, curhat dan tidak curhatpun dia akan mengetahuinya. Jika saja tuhan bisa dibohongi tentang hal ini, maka akulah orang yang pertama bohong kepada tuhanku sendiri.

- lantas apa yang membuatmu dingin, bahkan lebih dingin dari salju yang kukira? Sehingga kamu kelihatan tidak romantis sama sekali.

+ kekasih yang baik adalah kekasih yang tahu akan kondisi dan situasi kekasihnya. Aku adalah orang yang sangat bisa membuat orang lain ketawa atau bahkan dia lupa kalau dia sudah berbicara berjam-jam denganku. Aku dapat membuat orang lain menjadi hilang dalam masalah yang rumit sekalipun. Aku sangat bisa membuat kata-kata indah, kata-kata bijak kepada orang lain. Aku mempunyai keahlian dalam hal itu. Tapi kenyataannya kepadamu aku tidak bisa?. Ya, mungkin karena kamu tidak pernah tahu kondisiku saat itu, keadaanku seperti apa. Apa yang aku lakukan kala itu. Jika kamu sudah tahu kondisiku, dan apa yang aku inginkan. Maka aku akan menjaminnya “bahwa aku adalah laki-laki yang paling romantis seperti yang kamu inginkan”. Aku bisa mencipta diriku menjadi orang yang selalu membuat orang jadi tertawa. Namun jika aku boleh jujur, romantis itu kalau tidak salah adalah kata sifat. Jadi meski romantis tidak diketahui secara kasat mata maka tidak jadi masalah. Romantis itu perlu adanya kenyataan bukan hayalan. Jika hayalan, itu bukan romantis namanya, tapi lebay. Aku lebih tahu bagaimana diriku menciptakan ke romantisan terhadap pasangan, karena aku sudah mengalaminya bertahun-tahun dengan sendirinya, maka kau tidak usah mengajariku soal itu. Lalu apakah hubungan kita hanya dianggap hayalan olehmu sehingga jika aku tidak berbicara, berkata, dan melakukan dengan hal yang romantis tapi tidak berdasarkan fakta dan kenyaataan yang semestinya ada. Apakah aku harus selalu menghiburmu jika kamu terdapat sebuah masalah?. Perlu diketahui kekasihku, menghibur seseorang dalam masalah itu hanya jangka pendek, hanya pada waktu itu dia akan bahagia. Namun jika suatu hari nanti dia ingat akan masalahnya kembali maka dia akan merasa sakit hati lagi. Apakah aku hanya sebagai penghiburmu sesaat?. Bukan tipeku menghibur sesaat, jiwaku sudah tumbuh dan terbiasa untuk memecahkan masalah dan menemukan jalan keluarnya. Meski orang lain tidak merasa terhibur dengan apa yang aku lakukan tapi dampaknya itu yang mereka akan rasakan. Dan mulai saat ini kamu pilih dan fikirkan sematang mungkin, apakah aku akan menjadi penghiburmu atau menjadi orang yang bersedia mencarikan soslusi terhadap masalahmu?. Pilihlah…., mumpung masih ada sisa waktu untuk merubah segalanya. Pilihlah menurut hati nuranimu yang paling dalam. Aku tidak mau kamu memilih asal-asalan. Dalam hidup ini disadari ataupun tidak semua pilihan pasti ada konskwensi dan hikmahnya. Tidak ada yang kita lakukan tidak ada konskwensi dan hikmahnya. Orang matipun pasti ada konskwensi dan hikmahnya, apalagi orang hidup seperti kita berdua ini.

- Bagaiman jika aku memilih dua-duanya?: antara menghibur dan menyelesaikan masalah. Nampaknya jika dua-duanya dilakukan maka aku sangat merasa bahagia sekali.

+ Jawaban yang sangat bagus sekali, sebagus fikiranmu jika kau memilih dua-duanya. Tapi apakah kamu tahu jika terkadang seseorang tidak mampu dalam dua-duanya jika harus dipilih semuanya. Manusia adalah serba terbatas dalam tingkat ke fokusannya. Dan aku tidak mau jika aku dalam ke dua-duanya merasa tidak ahli, kelihatan ngambang laksana gabus diatas permukaan air. Setiap apa yang kita inginkan kita harus bisa mendapatkannya secara satu persatu agar hasilnya sangat memuaskan. Seperti ada seseorang yang sangat ingin menulis puisi dan cerpen dan dua-duanya ingin mahir. Tidak mungkin dalam waktu yang sama, pembelajaran yang sama, pengalaman yang sama dia akan menguasinya secara derastis. Tapi harus dipilih salah satu yang ingin diperdalam dan ingin dikuasai pertama kali. Jika sudah menguasainya satu barulah kita beranjak kepada yang satunya lagi. Lalu apakah dengan sisa waktu yang ada kita bisa dapat meraih harapan yang ke dua?. Apakah kamu tidak ingin menjadi orang yang bijaksana, yaitu memilih sesuatu yang banyak manfaatnya terlebih dahulu?. Terserah kamu sih, aku tidak pernah melarangmu memilih apapun saja selagi membuat dirimu bahagia.

- ya, aku mulai mengerti tentang ini. Aku coba fikir-fikir terlebih dahulu tentang itu. Namun yang menjadi persoalan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana bisa aku dikatan tidak bisa menjaga perasaanmu? Jika menyimak hal yang paling kamu tidak sukai. Menurutku aku sudah bisa pengrertian terhadapmu. Aku adalah perempuan yang paling pengertian dan paling bisa menjaga perasaanmu. Apa alasanmu tentang ini?.

+ aku ingin tanya satu hal kepadamu : jika aku ngobrol panjang, jika aku dibuat tertawa oleh orang lain selain dirimu, jika seumpama ada orang lain yang mencintaiku selainmu lalu aku membirkannya mencintaiku, lalu aku membiarkannya dia selalu ada untukku, lalu aku membiarkannya di menghiburku siang dan malam apakah kamu merasa cemburu dan sakit hati?. Sangat perlu diketahui kekasihku, tidak ada orang di dunia ini  merelakan kekasihnya dicintai oleh orang lain. Itu hal yang paling bodoh yang aku lakukan jika kekasihku dicintai oleh orang lain, apalagi sampai-sampai kamu curhat segalanya kepadaku tentang kedekatannya, tentang niat baiknya, tentang segalanya yang membuatmu tertawa. Apakah hatiku tidak merasa sakit, apakah hatiku tidak merasa hancur jika begitu. Dan apakah kamu mengerti perasaanku? Apakah kamu pegertian terhadapku dengan mengatakan semuanya kepadaku?. Seakan-akan aku tidak ada harganya sama sekali di matamu. Aku hanyalah laki-laki yang kelihatannya selalu memarahimu tanpa alasan.
Tidak kekasihku, itu bukan pengertian namanya dan menjaga perasaan seseorang yang kita cintai. Itu malah menyakitinya. Bayangkan saja jika posisimu berada di posisiku. Aku memang tidak pernah mengatakan kepadamu bahwa sifatku cemburuan terhadap orang lain. Tapi apakah kamu tidak dapat mejaga perasaanku sedikit saja, sedikit saja…… aku memang tidak pernah melarangmu melakukan apa saja. Namun karena aku lebih perhatian daripada kamu, aku lebih mengerti perasaanmu. Jika kamu bahagia melakukan apa saja yang kau mau, maka tidak ada alasan untukku untuk melarangmu. Aku rela mengatakan apapun saja meski rasanya sangat pedih sekali untuk kurasakan demi kebahagiaanmu. Bukan aku tidak cemburu, bukan aku tidak merasa sedih, bukan aku merelakan kamu melakukan apa saja. Tapi kebahagiaanmu adalah nomor satu. Mau tidak mau, suka tidak suka aku harus lebih dahulu mendahulukan kebahagiaanmu dari pada perasaanku ini, perasaan yang tidak sungguh-sungguh katamu. Mendahulukan segala keinginanmu tanpa mempedulikan keinginanku seperti apa. Jujur saja aku tidak pernah mencintai seseorang selainmu tanpa sepengatahuanmu, aku tidak pernah berselingkuh atau bahkan berpindah pada hati lain selain dirimu, meski diluar sana sudah cukup banyak yang menyatakan perasaan itu kepadaku. Namun aku tidak pernah meladeninya atau bahkan menghiburku sejenakpun, aku tidak memberikan kesempatan itu kepadanya. Aku tidak pernah memberikan kesempatan sedetikpun kepadanya untuk mencintaiku. Karena aku sangat mencintaimu, aku ingin kamulah yang berhak mencintaiku seutuhnya dan kamulah yang berhak menghiburku sampai hati ini merasa tidak bisa merasakan pilunya dunia.  Dan jika kamu sudah merasa bosan kepadaku, sudah merasa tidak bahagia denganku, sudah merasa aku tidak layak di matamu, sudah merasa ingin berpindah ke hati yang lain, aku sanggup melepasmu meski hati ini tidak dapat menerimanya. Dari pada hubungan ini tidak karuan dan tidak membuatmu merasa bahagia lebih baik kau memilihnya sendiri, tentukan yang terbaik untukmu. Apalah guna hubungan ini jika dijalani dengan kehampaan dan kekosongan, aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau hubungan ini hanya menjadi beban untukmu. Ini adalah perasaan yang paling jujur. Jika ada seseorang yang menanyakan tentang perasaanku, maka jawabanku dalam hati adalah : perasaanku sebenarnya lebih lembut dari kain sutera, perasaanku lebih tersentuh jika ada masalah yang menuntut rasa untuk merasakannya. Sebenarnya aku mudah dalam menangis, tapi hanya dalam hati, hanya dalam hati. Dan jika aku membaca ulang tentang tulisanku ini maka aku secara tidak sadar mataku tidak dapat menampungnya kembali. Akan tetapi jika ada seseorang yang menanyakan tentang fikiranku maka jawabannya adalah : fikiranku lebih keras dari pada benda-benda, fikiranku lebih liar dari seperti apa yang kau bayangkan, fikiranku lebih dapat menghargai sebuah masalah dengan lapang dada tanpa harus mengesampingkan perasaan. Sedih dalam berkepanjangan tidak baik juga untuk perasaan. Maka disitu posisi pikiran aku menempatkannya. Aku tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan maka dari itu aku fungsikan pikiran untuk mengatasinya. Perasaan tetap nomor satu kekasihku. Sebab mulanya sesuatu apapun dimulai dengan merasakan. Jadi kau tidak usah khawatir jika aku tidak bisa merasakan apa-apa. Aku lebih mengerti dari pada kamu : dimana aku harus memposisikan perasaan dan fikiran. Aku tidak lagi berdusta kekasihku.

Kamu ingat tgl 01-06-2013?. Pasti kamu ingat, karena kamu orang yang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Sebenarnya aku sudah siapkan hadiah untukmu di hari ulang tahunku. Tapi karena kamu masih tidak dapat menjaga perasaanku maka sampai saat ini pula hadiah itu tidak ada orang yang mengetahuinya. Lagi-lagi kecuali aku dengan tuhanku saja.
Aku hanya minta kamu juga bisa menjaga perasaanku, mengerti apa yang aku lakukan  jika bisa, jika bisa, jika bisa dan jika bisa………


Cinta memang membingungkan, tapi dengan rasa cinta kita bisa merendam rasa takut pada siappun, dengan rasa cinta kita bisa lebih kuat dari yang sebelumnya, dengan rasa cinta kita rela melakukan apa saja yang membuatnya bahagia. Dengan rasa cinta seseorang bisa hidup kembali dari kehancurannya, dengan rasa cinta dunia tampaknya tidak sia-sia diciptakan, dengan rasa cinta aku lebih bisa mejaga perasaanmu. Cinta itu sinting, cinta itu adalah keyakinan untuk tetap membuatmu bahagia, cinta itu adalah keyakinan untukku untuk tetap mencintaimu.
Dan atas nama cinta aku rela menderita
 

Malang 2013


Bersambung kepada halaman selanjutnya………………

Catatan : tulisan ini dianugerahi sebagai tulisan yang paling menyentuh dan renyah dalam bahasanya dalam kategori “CURHAT KEPERIBADIAN” sekota....... . Dan menjadi persentasi terbaik.....
Untuk tanda (-) adalah tanda dialog perempuan
Untuk tanda (+) adalah dialog untuk laki-laki

Minggu, 02 Juni 2013

Resume MK manajemen strategis dan EKPP


BAB V
MANAJEMEN PENGENDALIAN MUTTU TERPADU (TOTAL QUALITY MANAGEMENT) DI LINGKUNGAN ORGANISASI NON PROFIT

Fungsi-fungsi manajemen fungsional yang telah diuraikan satu persatu dalam bab terdahulu pada dasarnya merupakan esensi kegiatan manajemen, dalam arti perkembangan konsep-konsep baru mengenai manajemen tidak mungkin melepaskan diri dari fungsi-fungsi tersebut. Salah satu di antaranya adalah penggunaan dan pengembangan konsep kualitas dalam manajemen pengendalian muttu terpadu (total quality management disingkat TQm yang akan dipergunakan dalam uraian-uaraian berikutnya) tidak dapat keluar dari esensi tersebut, karena tanpa mengemplementasikan fungsi-fungsi manajemen berarti bukan kegiatan manajemen. Disamping itu telah diuraikan pada permulaan buku ini bahwa “manajemen” pada awalnya dipergunakan dan dikembangkan di lingkungan organisasi profit (perusahaan dan industri), maka tidak mungkin seluruh konsepnya diinplementasikan di lingkungkungan organisasi non profit. Kondisi itu berlaku juga pada TQM dalam arti tidak m,ungkin seluruh konsepnya diinplementasikan di lingkungan organisasi non profit. Dalam kenyataannya keyakinan yang mendasari usaha untuk mengemplemantasikan TQM di lingkungan organisasi non profit, khususnya di bidang pendidikan ternyata terus berkembang, meskipun akan tetap ditemui hambatan yang tidak mudah di atasi, di awali dengan perbedaan dalam menginterpretasikan pengertian “kualitas” sebagai atermenologi kunci/utama. Untuk itulah uraian berikut ini akan difokuskan atau mendahulukan pembahasan mengenai konsep kualitas, agar menjadi acuan pokok dalam pengemplementasian TQM dilingkungan organisasi non profit.

A. Pengertian kualitas di lingkungan organisasi non profit
Isu tentang kualitas sangat deras berkembang di lingkungan pendidikan pada penghujung abad XX terutama di indonesia sebagai negara berkembang. Salah satu sebabnya adalah karena dari tahun ke tahun lulusan SLTA ddan perguruan tinggi sebagai angkatan kerja yang tidak memperoleh kesempatan kerja jumlahnya semakin besar. Identifikasi terhadap kondisi itu dialamtkan pada rendahnya kualitas (mutu) lulusan, dalam arti pengetahuan, keterampilan, dan keahlian yang dikuasinya tidak sesuai dengan kulifikasi ya ng dituntut lapangan kerja yang atau sangat rendah kemapuannya untuk mandiri dalam bejerja. Issu seperti itu menimbulkan keyakinan dan dorongan untuk membenahi peroses belajar mengajar sebagai usaha memperbaiki kualitas lulusan dengan mengemplementasikan TQM di lingkungan organisasi pendidikan jalur sekolah khususnya perguruan tinggi.

Selanjutnya denga maksud tidak beralih dari pembicaraan kualitas di bidang pendidikan seperti diuraikan di atas, urIn berikut ini akan kembali pada kata kunci “kualitas” sebagaimana dimaksudkan dalam TQM, agara dapat dipergunakan dalam menjembatani pengemplementasiaannya di lingkunagan organisasi non profit khususnya di bidang pendidikan. Beberapa di antaranya akan dikutip berikut ini.

Wayne f. Kassio mengatakan “quality is the extent to wich products and sevice conforn to costumer requerement”. Di samping itu cassio juga mengutip pengertian kualitas dari the federal quality institut yang menyatakan “qulity as meeting the customer’s requrements the ferst time and everree time, where custumer can be internal as well as eksternal to the organitation”. Masih banyak pengertian lain yang dirumuskan dengan redaksional yang berbeda, namun tidak berbeda prinsipil maksudnya.

Semua pengertiam kualitas tersebut di atas jelas beroreintasi pada organisasi profit dalam melaksanakan proses produksi yang menunjukkan bahwa konsisi produk sebagai hasilnya harus memenuhi beberapa tolak ukur tertentu. Di antara tolak ukur tertentu itu yang terpenting adalah terpenuhinya persyaratan yang dituntut konsumen pada produk tersebut. Tolok ukur lain adalah konsisi kemampuan memenuhi persyaratan yang dituntut konsumen sejak awal dan secara terus menerus sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya yang selalu dapat berubah dan berkembang. Sehubungan dengan itu berarti juga pengertian kualitas yang sebenarnya belum ditemukan, karena yang dinyatakan di atas adalah karakteristik tolak uklurnya bukan karakteristik yang terdapat dalam pengertian kualitas. Sebagaimana diimplementasikan oleh manajemen beroreintasi pada hasil/tujuan (manajemen by objektif MBM). TQM dikembangkan tidak sekedar konsep yang menekannkan pada kualitas produk terakhir karena untuk memeperoleh produk yang berkualitas dipengaruhi juga oleh berbagai faktor lainnya. TQM yang tidak sekedar menekankan pada kualitas produk akhir itu juga mengutamakan kualitas peroses, lingkungan kerja, dan sumberdaya manusia yang menghasilkan produk sebagaimana diinginkan dan dibutuhkan konsumennya. Sejalan dengan itu guetsch dan daviss (1994) sebagaimana dikutip oleh fandi tjiptono dan anastasian diana (1996) yang mengatakan kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, peroses dan lingkungan yang memenuhi dan atau melebihi harapan.”

Pengertian kualitas seperti diuaraikan di atas, pada dasrnya berlaku juga bagi organisasi non profit di bidang pemerintahan termasuk yang mengelola/mengendalikan dan melaksanakan sistem pendidikan nasional secara operasional, karena tugaas pokoknya adalah memberikan pelayanan umum (public service) yang berarti juga konsumennya dalah masyrakat yang membutuhkan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

Untuk itu bagi organisasi non profit tolak ukurnya sangat tidak mudah, berbeda dengan organisasi profit yang dapat diukur dari keberhasilan memasrkan produknya pada konsumen, yang dicirikan dengan mampu merebut konsumen lebih baik dari pesaingnya yang memperoduksi barang atau jasa yang sama atau sejenis. Sedang di lingkungan organisasi non profit khususnya di bidang pemerintahan yang tidak menghadapi persaingan dalam memeniuhi keinginan dan kebutuhan konsumennya, maka kualitas harus diukur dengan banyaknya anggota masyarakat yang merasa puas atau sebaliknya semakin berkurang/tidak ada keluhan anggota masyarakat pada peroses pemberian pelayanan dan hasil pembangunan fisik dan non fisik. Bertolak dari kualitas seperti diuraikan di atas cassio (1995) memberikan pengertian bahwa “TQM, afilosofi and set of guidding prinsiple thet represent the fundation of a continously improfing organitation”.

Pengertian lain dikemukakan oleh santosa (1992) yang dikutip oleh fandy tjiptono dan anastasia diana yang mengatakan bahwa “TQM merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan beroreintasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi”. Di samping itu fandy tjiptono dan anstasia diana (1998) menyatakan pula bahwa “ total quality manajement merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungannya.” Berdasarkan pengertian itu diketengahkan tentang karakteristi TQM sebagai berikut :
1. fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal
2. memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas
3. menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
4. memiliki kometrmen jangka panjang
5. membutuhkan kerja sama tim (tim work)
6. memperbaiki proses secara berkesinambungan
7. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
8. memberikan kebebasan yanga terkendali
9. memiliki kesatuan yang terkendali
10. adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan

B. Pengimplementasian tqm di lingkungan organisasi non profit
Karakteristik TQM sebagaiman diurakan di atas dapat dikategorikan sebagai prinsip-prinsip yang harus dijadikan pedoman pengimplementasiaan TQM dalam fungsi-fungsi manajemen, khususnya di lingkungan organisasi pengelola/pengendali dan organisasi pelaksana operasional sistem pendidikan nasional, sesuai dengan jenis dan jenjangnya masing-masing. Implementasi karakteristik TQM dalam fungsi-fungsi manajemen secara terpada di lingkungan organisasi non profit antara lain dilakukan sebagai berikut :

1. berfokus pada yang dilayani
Karakteristik ini pada awalnya menekankan bahwa bagi organisasi non profit keberhasi;lan melaksanakan tugas pokoknya dalam pemberian pelayanan umum dan me;laksanakan pembangunan harus diukur dengan mengacu pada suatu standar tertentu yang telah ditetapkan.

Tabel 3. Perbedaan manajemen tradisional dan TQM
NO DIMENSI ORGANISASI PARADIGMA MANAJEMEN
TRADISIONAL PARADIGMA TQM MANAJEMEN FUNSIONAL
1 Budaya Organisasi - individualisme
- difrensiasi
- kepeminpinan
- laba
- produktivitas - usaha bersama
- fungsi silang dalam bekerja
- melatih dan memberi peluang
- pelayanan yang memuaskan 1. perencanaan
2. pengorganisasian
3. penggerakan
4. penganggaran
5. kontrol
2 Pelaksanaan pekerjaan a. komunikasi
- atas ke bawah
- prosedur dan mekanisme kerja organisasi
b. desain pekerjaan
- efesiensi
-produktivitas
-metode kerja terbaik
-kontrol terbatas
-diskripsi pekerjaan
-yang bersifat khusus a. komunikasi
- dua arah vertikal horizontal dan diagonal
-jaringan kerja
b. desain pekerjaan
- kualitas
-pelayanan
-kontrol yang luas
-tim kerja otonom
-pelayanan
-keterampilan kerja Karakteristik pelaksanaan funsi manajemen
- berfokus pada yang dilayani
-kualitas
-kepeminpinan
-yang aktif
-konsep kualitas
3 Tujuan pelaksanaan pekerjaan Tujuan individual Tujuan tim kerja Tujuan organisasi
-pengikutsertaan pekerja
4 Pengukuran dan penilaian - reviu hasil supervisi
-kinerja keuangan -Pihak yang dilayani rekan kerja dan reviu hasil supervisi
-kualitas dan pelayanan -pendekatan pemecahan masalah

2. kepeminpinan yang aktif
Karakteristik ini dalam TQM mengharuskan para peminpin atau/manajer organisasi non profit di bidangnya masing-masing dari puncak pinpinan (top manajer) sampai yang terendah dalam poinpinan kerja di lapangan harus menerima bahwa persyaratan bersifat kualitas bersifat fundamental (mendasar)
3. konpsep kualitas
Di penghujung abad XX dan memasuki abad ke XXI kenyataan menunjukkan bahwa ilmu dan tekhnologi berkembang dengan pesat dan akan berlangsung terus tanpa diketahui batas-batasnya.
4. pengembangan konsep kualitas sebagai budaya organisasi
Budaya organisasi yang menjamin pelaksanaan komoitmen pucuk pinpinan dan manajer bawahannya dalam menciptakan, mewujudkan, melaksanakan dan mengontrol pelaksanaan pekerjaan yang berfokus pada kualitas, sangat besar pengaruhnya pada pelaksanaan peroses menghasilakn sesuatu, dan pada kualitas hasilnya.
5. berfokus pada pemberdayaan SDM
Karakteristik TQM ini bertolak dari asumsi bahwa “berapapun besarnya jumlah dana iyang disediakan, lengkapnya aset, dan canggihnya tekhnologi yang dimilki, maka kehilangan artinya, tidak berniali dan tidak akan berfungsi jika yang mendayagunakannya terdiri dari SDM yang tidak atau rendah kualitasnya.”
6. pendekatan pemecahan masalah
Karakteristik TQM ini merupakan perwujudan cara bekerja yang berkualitas untuk mencapai hasil yang berkualitas pula yang harus dikembangkan menjadi bagian dari budaya organisasi yang bersifat non profit. Intinya adalah pengembangan sikap SDM kunci untuk tidak bekerja dengan menunggu perintah dan peningkatan kemampuan menemukan dan memecahkan masalah dari kondisi nyata dalam melaksanakan tugas pokok organisasi.
7. mengenali partner (rekan kerja)
Dalam uraian-uarain terdahulu selalu ditekankan pada peroses TQM diwujudkan untuk mencapai hasil (produk) yang berkualitas, melalui pelaksanaan seluruh fungsi manajemen secara berkualitas pula. Peroses dan hasil yang berkualitas itu tidak boleh diukur dari standart (tolok ukur) yang ditetapkan sendiri oleh organisasi.

C. Sumber-Sumber Kualitas Dalam TQM
Dalam uraian terdahulu telah dikemukakan bahwa sumber utam dalam mewujudkan semua pendekatan manajemen adalah organisasi yang sehat/baik (good organitatio) dilingkungan organisasi yang kondisinya sehat, tedapat beberapa sumber yang berkualitas yang dapat mendukung pengimplementasian TQM secara maksimal beberapa di antara sumber berkualitas tersebut akan dibahas berikut ini :
1. kometmen pucuk pinpinan terhadap kualitas
Kometmen terhadap kualitas dari pucuk pinpinan sangat penting karena berpengaruh langsung pada setiap pembuatan kleputusan dan kebijakan, pemilihan dan pelaksanaan perogram dan peroyek, pemberdayaan SDM, dan pelaksanaan kontrol.
2. sistem informasi manajemen
Sumber ini sangat penting karena usaha mengimplementasikan semua fungsi manajemen yang berkualitas, sangat tergantung pada ketersediaan informasi dan data yang akurat, cukup atau lengkap dan terjamin keterkiniaannya (uptodate) sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan tugas pokok untuk mewujudkan dan memelihara eksistensi sebuah organisasi non profit.
3. SDM yang potensial
Sdm di lingkungan organisasi non profit sebagai aset bersifat kuantitatif dalam arti dapat dihitung jumlahnya. Di samping itu SDM juga merupakan potensi yang berkewajiban melaksanakan tugas pokok organisasi non profit untuk mewujudkan eksistensinya.
4. keterlibatan semua fungsi
Semua fungsi dalam TQM sebagai sumber kualitas, sama pentingnya satu dengan lainnya, yang sebagai satu kesatuan ibarat sebuah rantai yang kekuatannya ditentukan oleh matarantai terlemah. Untuk itu semua fungsi harus dilibatkan secara maksimal, sehingga saling menunjang satu dengan yang lain.
5. filsafat perbaikan kualiatas secara berkesinambungan
Sumber kualitas ini bersifat sangat mendasar karena tergantung pada posisi pucuk pinpinan di lingkungan organisasi non profit bidang pemerintahan yang selalu menghadapi kemungkinan dipindahkan atau dapat memohon untuk dipindahkan dari satu organisasi ke organisasi yang sama. Tetapi berbeda ruang lingkup kewenangan dan tanggungjawabnya.
Semua sumber kualitas di lingkugan organisasi non profit di bidang pemerintahan seperti diuraikan di atas dapat dilihat manifestasinya melalui dimensi-dimensi kualitas yang harus direalisasikan oleh pucuk pinpinan dengan bantuan staf pinpinan sebagai ekskutif dan kerja sama SDM yang dimiliki. Dimensi kualitas dimaksud adalah sebagai berikut :
1. dimensi kinerja organisasi
Kinerja dalam arti unjuk perilaku dalam bekerja (performance) yang positif, merupakan gambaran konkrit dari kemampuan mendayagfunakan sumber-sumber kyualitas yang berdampak pada keberhasilan mewujudkan, mempertahankan dan mengembangkan eksistensi organisasi non profit.
2. iklim kerja
Penggunaan sumber-sumber kualitas secara intensif akan menghasilkan iklim kerja yang kondusif di lingkungan sebuah organisasi non profit bidang pemerintah. Iklim kerja tersebut di warnai oleh kebersamaan yang memperioritaskan kualitas dalam membirikan pelayanan umum (publik service) dan pelaksanaan pembangunan di atas semua kepentingan yang lain, baik kepentingan kelompok atau golongan maupun kepentingan pribadi.
3. nilai tambah
Pendaya gunaan sumber-sumber secara efektif dan efisien akan memberikan nilai tambah atau ke istimiwaan tambahan sebagai pelengkap dalam melaksanakan tugas pokok dan hasil yang di capai oleh organisasi non profit.
4. kesesuain dengan spesifikasi (comformance to spicification)
Pendaya gunaan sumber-sumber secara efektif dan efisien manifistasi pada kemampuan personel untuk menyesuaikan proses pelaksanaan pekerjaan dan hasilnya dengan karekterisik oprasional dan standar hasilnya berdasarkan ukuran kualitas yang di sepakati.
5. kualitas pelayanan dan daya tahan hasil pembangunan
Dampak lain yang dapat di amati dari pendaya gunaan sumber-sumber kualitas yang efektif dan efesien, terlihat pada peningkatan kualitas dalam melaksanakan tugas pemberian pelayanan umum (public service)
6. persepsi masyarakat
Pendayagunaan sumber-sumber kualitas yang sukses di lingkungan organisasi non profit bidang pemerintahan dapat di ketahui juga dari persepsi masyarakat dalam bentuk citra dan repotasi yang positif mengenai pelayanan umum yang di berikan, hasil pembangunan yang di selesaikan dan bahkan terhadap organisasi secara ke seluruhan.

Minggu, 05 Mei 2013

Penyalahgunaan Wewenang DPR




DPR seakan telah mendapat vonis sebagai Instusi yang gagal total dalam menjalankan cabang kekuasaan legislative dimana banyak terjadi penyimpangan dalam melakukan tugasnya. DPR yang pasca reformasi menjadi penikmat/penerima “pergeseran” kekuasaan dari eksekutif heavy ke legislative heavy, tidak mampu memanfaatkan limpahan kewenagan yang didapatkan untuk menyambungkan aspirasi rakyat kedalam kebijakan yang akan diambil oleh ketiga Negara melalui tiga fungsi yaitu: Pertama, Fungsi legislasi yaitu fungsi yang berkenaan dengan kewenagan untuk menentukan peraturan yang mengikat warga Negara dengan norma-norma hukum yang mengikat dan membatasi. Kedua, Fungsi Anggaran adalah kewenagan yang diberikan kepada DPR untuk turut serta dalam membahas,menyetujui atau menolak rancangan anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN) yang diajukan oleh presiden. Ketiga, Fungsi pengawasan adalah fungsi yang wajib dilekatkan dalam diri DPR. Hal ini karena DPR merupakan kepercayaan rakyat dalam mewakili rakyat dalam mengawasi roda pemerintahan.

Namun ketiga fungsi DPR diatas malah “diperalat” sebagai “amunisi”dalam memapankan politik transksaksional.UU pemilu, APBN, hak angket century dan persetujuan atau pemilihan pejabat public seperti pimpinan KPK adalah bukti kogkrit yang menampakkan betapa fungsi legeslasi, anggaran dan pengawasan DPR telah dijaadikan sebagai komoditi politik oleh elite parpol dan kelompoknya.

Akibatnya, DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat yang utama dan partama semakin kehilangan pamor dimata puiblik. DPR bukan lagi diposisiskan sebagai Dewan Perwakilan Rakyat melainkan Dewan Perampok Rakyat, Dewan Pemerkosa Rakyat dan Dewan Penipu Rakyat.

Tentu saja reputasi buruk yang dilekatkan pada DPR harus segera dihapuskan. DPR tidak boleh terus menerus dalam kondisi carut marut terus menerus, mengingat DPR salah satu tiang Demokrasi.

Oleh karenanya, membaca buku ini hukumnya fardu Ain. Sebab di dalamnya diuraikan bagaimana kongkalingkong politik di senayan dan disertai beberapa ramuan kongkrit untuk menyelamatkan DPR dari kematian parlemen. Selain itu kita sebagai masyarakat yang hidup dalam Negara Demokrasi harus mengerti dan memahami apa saja yang terjadi di dalam DPR sebagai wakil aspirasi kita kepada pemerintah dan dibuku ini semua itu akan dibahas secara tuntas.

Di dalam buku ini juga pengarang (Ahmad Siboy) mencoba memberikan rekomendasi-rekomendasi atau pemecahan-pemecahan masalah terhadap kritikan yang pedas kepada DPR. terkadang seorang penulis ataupun seorang kritikus hanya bisa mengkritiknya akan tetapi tidak dapat memberikan pemecahan masalah untuk direkomendasikan. Akan tetapi karangan Ahmad Siboy ini “Membongkar Politisasi Fungsi DPR” sudah mencoba menawarkan pemecahan masalah pada akhir Bab bukunya sekaligus sebagai penutup dari berbagai retorika di depan. di dalam buku ini juga ada sisi yang tidak keterlaluan la menurut saya, yaitu kata-kata Ahmad Siboy mengkritik DPR sangatlah pedas sekali kata-katanya. Seperti DPR sebagai dewan pelacur rakyat, dewan pemerkosa rakyat dll. Mungkin ini merupakan sebuah bentuk kekecewaan penulis kepada DPR kita sehingga penulis meluapkan rasa kekecewaannya kepada tulisan-tulisan yang terkumpul berbentuk buku. Mungkin juga ini merupakan sebuah gaya seorang penulis untuk mengkritik sesuatu atau bisa juga di sebut sebagai karakter dari Ahmad Siboy. Akan tetapi meskipun kata-katanya sangat liar sekali tidak dipungkiri bahwa pembaca lebih menyentuh dan nyambung, tidak jenuh jika dihadapkan hal seperti ini dan tidak membuat karangan ini kehilangan performent sebagai bentuk eksistensi.



Tulisan ini dikutip dari buku “Membongkar Politisasi Fungsi DPR”
Malang 17 April 2013